Kementerian Agama mendorong perguruan tinggi Islam mengembangkan program studi kepesantrenan untuk memperkuat kajian sejarah, pendidikan, dan ekonomi pesantren.
TULUNGAGUNG – Tradisi keilmuan pesantren berpeluang menjadi bidang kajian akademik yang lebih luas di perguruan tinggi Islam. Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama mengusulkan Universitas Islam Negeri (UIN) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) lainnya membuka program studi khusus kepesantrenan.
Usulan tersebut disampaikan Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, Mastuki, dalam kegiatan Sharing Session Kepesantrenan di UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Jumat (6/11/2026).
“Ada ruang terbuka kajian pesantren dari sisi pendidikan,” ujar Mastuki.
Menurutnya, pesantren memiliki sejarah panjang, tradisi keilmuan, serta sumber referensi yang memadai untuk dikembangkan menjadi disiplin akademik. Pembukaan program studi dapat diajukan melalui penyusunan naskah akademik dan penilaian pakar kepada Kementerian Agama.
Mastuki menilai kajian pesantren di lingkungan UIN, Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) masih terbatas. Padahal, pesantren tidak hanya menyelenggarakan pendidikan agama, tetapi juga mengembangkan sekolah, madrasah, pendidikan diniyah, hingga unit usaha.
Ia menggambarkan sejumlah pesantren kini memiliki kegiatan produktif yang luas, menyerupai perusahaan induk atau holding company. Potensi tersebut dinilai layak dikaji, termasuk kontribusinya terhadap kemandirian ekonomi masyarakat.
Redaksi 01