Kembali berkobarnya perang di Yaman menyebabkan 290.000 orang mengungsi, termasuk 6.100 perempuan hamil yang menghadapi keterbatasan layanan kesehatan dan ancaman persalinan di tengah krisis kemanusiaan.
YAMAN – Sebanyak 6.100 perempuan hamil termasuk dalam gelombang pengungsi akibat kembali memanasnya perang di Yaman. Dari jumlah tersebut, sekitar 600 perempuan diperkirakan akan melahirkan dalam dua pekan ke depan, sementara keterbatasan layanan kesehatan, kenaikan harga pangan, dan mahalnya bahan bakar semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di negara tersebut.
Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat sedikitnya 290.000 orang telah meninggalkan tempat tinggal mereka sejak konflik bersenjata kembali meningkat pada Agustus 2026. Situasi ini menempatkan kelompok rentan, khususnya ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkan, dalam ancaman serius.
Dalam laporan yang diterbitkan pada Jumat, OCHA juga memperingatkan bahwa sekitar 65.000 pengungsi dan pencari suaka yang berada di Yaman menghadapi kondisi yang semakin memburuk. Gangguan pelayanan dasar serta kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar membuat kelompok tersebut semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ancaman terhadap perempuan hamil menjadi salah satu persoalan paling mendesak. Selain menghadapi risiko akibat konflik dan perpindahan tempat tinggal, mereka juga membutuhkan layanan pemeriksaan kehamilan, tenaga kesehatan, serta fasilitas persalinan yang memadai.
Untuk mengurangi dampak krisis tersebut, PBB bersama organisasi kemanusiaan telah mengerahkan tim medis bergerak dan bidan ke sejumlah lokasi pengungsian. Langkah ini dilakukan untuk memastikan perempuan hamil tetap memperoleh pendampingan kesehatan, termasuk mereka yang sudah mendekati waktu persalinan.
Upaya penyaluran bantuan juga telah menjangkau sekitar 249.000 orang atau tiga perempat dari total penduduk yang baru mengungsi. Bantuan yang diberikan meliputi bahan pangan, perlengkapan kebersihan, serta bantuan uang tunai darurat untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak.
Krisis pengungsian tersebut berlangsung di tengah meningkatnya pertempuran antara pasukan yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan kelompok pemberontak Houthi. Intensitas pertempuran dilaporkan meningkat, terutama di Provinsi Taiz dan kawasan pesisir, dengan ribuan orang dilaporkan tewas.
Konflik bahkan meluas hingga melintasi perbatasan menuju Arab Saudi. Pada Sabtu, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat nirawak yang disebut sebagai ancaman di wilayah Riyadh.
Juru bicara koalisi, Turki al-Malki, menyampaikan perkembangan tersebut melalui platform X. “The relevant authorities are continuing to inspect the site,” tulisnya dalam unggahan tersebut. Ia juga menyatakan belum ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden itu.
Pencegatan tersebut menjadi insiden kedua dalam dua hari berturut-turut di wilayah Riyadh. Sehari sebelumnya, Jumat, Arab Saudi juga melaporkan keberhasilan menjatuhkan sejumlah pesawat nirawak di sekitar Makkah, Medina, dan Riyadh, serta mencegat sebuah rudal Houthi yang ditembakkan menuju wilayah selatan kerajaan tersebut.
Meluasnya konflik dan bertambahnya jumlah pengungsi memperlihatkan semakin beratnya tantangan penanganan kemanusiaan di Yaman. Selain membutuhkan perlindungan bagi warga sipil, situasi ini menuntut penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, terutama bagi ribuan perempuan hamil yang harus menghadapi persalinan dalam kondisi pengungsian. Keberlanjutan bantuan pangan, fasilitas medis, dan akses aman bagi pekerja kemanusiaan menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah bertambahnya korban akibat krisis berkepanjangan. []
Redaksi 01