Pengepungan kelompok Houthi terhadap Kota Taiz memutus jalur distribusi, menipiskan persediaan pangan, dan mengancam operasional 12 rumah sakit di tengah kembali berkobarnya perang Yaman.
TAIZ – Ancaman krisis kemanusiaan semakin membayangi sekitar 800.000 warga Kota Taiz, Yaman, setelah kelompok Houthi memutus seluruh jalur utama keluar-masuk kota tersebut. Kondisi ini menyebabkan persediaan pangan kian menipis dan mengancam operasional 12 rumah sakit yang diperkirakan hanya memiliki cadangan bahan bakar untuk beberapa jam ke depan.
Terputusnya akses transportasi dan distribusi kebutuhan pokok membuat warga Taiz menghadapi tekanan berlapis di tengah kembali memanasnya konflik bersenjata antara kelompok Houthi dan pemerintah resmi Yaman. Situasi tersebut meningkatkan risiko terganggunya pelayanan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Kota Taiz yang berada di wilayah barat daya Yaman memiliki posisi strategis dalam konflik berkepanjangan di negara tersebut. Kota ini terletak sekitar 250 kilometer di selatan Sana’a, ibu kota yang dikuasai Houthi, serta sekitar 200 kilometer di utara Aden, pusat pemerintahan resmi Yaman yang didukung Arab Saudi.
Dampak pengepungan semakin mengkhawatirkan mengingat Taiz merupakan kota terbesar ketiga di Yaman. Sebelum perang, wilayah ini dihuni sekitar 1,2 juta orang. Namun, jumlah penduduknya kini diperkirakan menyusut menjadi sekitar 800.000 jiwa.
Krisis tersebut tidak terlepas dari kembali pecahnya pertempuran berskala besar antara kelompok Houthi dan pemerintah resmi Yaman pada Juli 2026. Konflik kembali meningkat setelah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022 runtuh.
Dalam perkembangan konflik terbaru, kelompok Houthi melancarkan serangan cepat ke arah selatan. Pergerakan tersebut menjadikan Taiz dan kawasan dataran tinggi di sekitarnya sebagai wilayah penting dalam perebutan kendali teritorial.
Penguasaan kawasan Taiz dinilai dapat membantu Houthi memperkuat posisi mereka di wilayah barat, khususnya daerah yang berdekatan dengan pesisir Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Jalur perairan tersebut memiliki arti strategis bagi aktivitas pelayaran dan perdagangan internasional.
Laporan mengenai situasi tersebut ditulis Jonathan Spyer dan diterbitkan Jerusalem Post pada Sabtu, (31/10/2026). Pemberitaan itu juga menyoroti dampak pengepungan terhadap masyarakat sipil, termasuk ancaman serangan terhadap kawasan permukiman di Taiz.
Jika akses bantuan dan distribusi kebutuhan pokok tidak segera dipulihkan, warga Taiz berpotensi menghadapi kondisi yang semakin sulit. Terlebih, keterbatasan bahan bakar rumah sakit dapat mengganggu pelayanan medis bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan di tengah konflik. []
Redaksi 01