DEPOK – Santri memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga ruang informasi publik agar tidak dipenuhi berita bohong. Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH Abdurrahman al-Kautsar atau Gus Kautsar, dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Depok Open Space, Jawa Barat, Kamis (5/11/2026) malam.
Pesan yang diberitakan NU Online pada Jumat (6/11/2026) itu menekankan pentingnya introspeksi diri, peningkatan kompetensi, dan ketajaman hati nurani dalam menghadapi derasnya informasi digital.
Gus Kautsar mengingatkan bahwa santri tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama. Mereka juga harus mempunyai kemampuan mengenali kesalahan, memahami keterbatasan diri, dan memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
“Jika tidak bisa jadi santri yang baik, yang sadar akan kesalahan dan kebodohannya, jangan sampai jadi hamaj. Ini yang paling berbahaya,” kata Gus Kautsar.
Pesan tersebut relevan dengan perkembangan media sosial yang memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat, termasuk informasi yang belum jelas kebenarannya.
Santri diharapkan dapat menjadi bagian dari masyarakat yang mengedepankan tabayun, tidak mudah terprovokasi, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi komunikasi.
Dengan bekal ilmu agama dan kemampuan literasi digital, pesantren mempunyai peluang besar untuk melahirkan generasi yang bukan hanya cakap berdakwah, tetapi juga mampu menjaga kualitas informasi di tengah masyarakat.
Redaksi 01