Peringatan Hari Santri 2026 menjadi momentum pemerintah mendorong generasi pesantren menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memperkuat karakter, serta memperluas kontribusi dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
JAKARTA – Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu bekal penting yang harus dimiliki santri untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Pemerintah mendorong pesantren melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga mampu bersaing dan berkontribusi di berbagai sektor kehidupan.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan, peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 harus menjadi momentum memperluas kontribusi santri dalam menghadapi tantangan bangsa. Santri diharapkan mampu mengembangkan kapasitas diri agar tidak hanya berperan dalam lingkungan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan nasional.
“‘Menguatkan Negeri’ dimaknai dengan menghadirkan santri sebagai bagian dari solusi atas tantangan bangsa. Dari pesantren, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman spiritual dan keluasan ilmu, tetapi juga berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, serta mampu memberikan kontribusi di berbagai bidang,” ujar dia dalam keterangan di Jakarta, Kamis, sebagaimana diberitakan Antara, Kamis, (05/11/2026).
Komitmen tersebut dituangkan melalui penetapan tema Hari Santri 2026, yakni “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema itu ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026 tentang Panduan Pelaksanaan Peringatan Hari Santri 2026.
Nasaruddin menjelaskan, frasa “Menuju Indonesia Emas” mencerminkan tanggung jawab bersama dalam mempersiapkan sumber daya manusia unggul menjelang 2045. Dalam konteks tersebut, santri dinilai memiliki potensi untuk berkontribusi melalui penguatan karakter, penguasaan ilmu, dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Perubahan peran santri juga menjadi perhatian Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama Kamaruddin Amin. Ia menilai generasi pesantren perlu menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan nilai spiritualitas sebagai landasan kehidupan.
“81 tahun kemudian, santri menguatkan negeri lewat ilmu, teknologi, dan akhlak. Itulah semangat santri 2026: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas,” kata dia.
Kamaruddin juga menyoroti dukungan pemerintah terhadap penguatan kelembagaan pesantren melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama. Pembentukan direktorat tersebut dilakukan melalui Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026.
“Bapak Presiden Prabowo membentuk Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama lewat Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026. Santri bisa menjadi ulama, bisa menjadi ilmuwan, bisa menjadi pengusaha, hingga pemimpin bangsa, dan negara membuka jalannya,” katanya.
Menurut Kamaruddin, penguatan peran santri perlu diarahkan agar lulusan pesantren memiliki kesempatan berkembang dalam berbagai bidang profesi. Dengan bekal pendidikan agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan akhlak, santri diharapkan mampu memasuki ruang-ruang strategis pembangunan nasional.
Nilai Islam rahmatan lil ‘alamin juga menjadi landasan dalam membangun generasi pesantren yang terbuka, berdaya saing, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Melalui peringatan Hari Santri 2026, pemerintah berharap pesantren semakin berperan dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Santri diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa, tetapi juga tampil sebagai penggerak pembangunan yang berilmu, berkeadaban, dan mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat. []
Redaksi 01