Kunjungan Bunda Inklusi Kemenag Bireuen bersama DWP ke MIN 24 Bireuen menjadi momentum memperkuat kepedulian, pendampingan, dan kesetaraan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
BIREUEN – Pendidikan inklusif membutuhkan keterlibatan madrasah, keluarga, dan masyarakat agar anak berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan belajar yang setara. Komitmen tersebut menjadi perhatian Bunda Inklusi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bireuen, Sity Rachmah, saat mengunjungi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 24 Bireuen, Jumat (30/10/2026).
Kunjungan bersama Pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK), sekaligus mendorong terciptanya lingkungan madrasah yang mampu menerima keberagaman karakter dan kemampuan peserta didik.
Dalam kesempatan itu, Sity Rachmah menekankan bahwa keterbatasan yang dimiliki seorang anak tidak boleh menjadi penghalang untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensi diri. Setiap peserta didik memiliki keistimewaan yang perlu mendapatkan perhatian serta pendampingan sesuai kebutuhannya.
“Anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Mereka membutuhkan perhatian, kasih sayang, serta pendampingan agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya,” ungkap Sity Rachmah, sebagaimana diberitakan Kemenag Aceh, Jumat (30/10/2026).
Ia juga memberikan apresiasi kepada tenaga pendidik dan pengelola MIN 24 Bireuen yang telah memberikan perhatian kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Menurutnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada kemampuan guru dalam mendampingi siswa, tetapi juga memerlukan dukungan keluarga dan lingkungan sosial.
Pendekatan pendidikan yang inklusif perlu diwujudkan melalui suasana belajar yang aman, nyaman, dan menghargai perbedaan. Dengan demikian, anak-anak berkebutuhan khusus dapat berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan tanpa mengalami perlakuan diskriminatif.
Kehadiran Bunda Inklusi bersama jajaran DWP juga diharapkan dapat memperkuat motivasi tenaga pendidik dalam mengembangkan layanan pendidikan yang lebih humanis. Perhatian terhadap kebutuhan setiap peserta didik menjadi salah satu langkah penting untuk membangun madrasah yang memberikan ruang tumbuh dan berkembang bagi seluruh anak.
Upaya tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan juga upaya membangun lingkungan yang menghargai kesetaraan, kepedulian, dan keberagaman. Dengan dukungan semua pihak, madrasah diharapkan semakin mampu menghadirkan pendidikan yang memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk meraih masa depan yang lebih baik. []
Redaksi 01