Seorang ibu hamil berusia 25 tahun di Taiz, Yaman, terancam kehilangan janinnya setelah peluru penembak jitu menembus tubuh dan bersarang di dekat tulang belakangnya. Nasib tragis Amal al-Sabri menjadi gambaran penderitaan warga sipil di tengah pertempuran yang semakin sengit, sementara rumah sakit kewalahan menangani ratusan korban perang akibat kekurangan obat-obatan, peralatan medis, dan tenaga kesehatan.
TAIZ – Perang yang kembali berkecamuk di Yaman menempatkan warga sipil dalam pilihan hidup yang memilukan. Seorang ibu hamil berusia 25 tahun di Taiz terancam kehilangan janinnya setelah peluru penembak jitu menembus tubuh dan bersarang di dekat tulang belakangnya. Di tengah keterbatasan obat-obatan dan fasilitas kesehatan, rumah sakit yang kewalahan menangani korban perang menghadapi keputusan sulit antara menyelamatkan korban luka dan memberikan pertolongan kepada ibu yang hendak melahirkan.
Amal al-Sabri, ibu dua anak yang tengah mengandung lebih dari empat bulan, kini terbaring tidak dapat bergerak di Rumah Sakit Al-Thawra, Taiz. Ia terluka setelah terkena tembakan penembak jitu di Desa al-Shaqb, kawasan lereng Gunung Sabir yang menghadap Kota Taiz.
Sebelum mendapatkan pertolongan, Amal terjebak di dalam rumahnya selama dua hari tanpa makanan dan air. Pertempuran yang berlangsung di sekitar tempat tinggalnya membuat akses menuju pertolongan medis semakin sulit.
Kepada Reuters, Amal mengungkapkan bahwa peluru masuk melalui sisi tubuhnya dan bersarang di dekat tulang belakang. Tim medis belum dapat mengeluarkan proyektil tersebut karena kondisinya yang sedang hamil.
“Peluru masuk dari samping dan sekarang bersarang di dekat tulang belakang. Para dokter tidak dapat mengeluarkannya karena janin saya,” kata Amal, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kamis (29/10/2026).
Dalam kondisi yang semakin sulit, Amal menyampaikan bahwa ia kini mempertimbangkan untuk melepaskan kehamilannya. Pernyataan itu menggambarkan beratnya keputusan yang dihadapinya, meskipun belum ada kepastian mengenai tindakan medis lanjutan maupun kondisi janinnya.
Nasib Amal menjadi gambaran penderitaan warga sipil yang terjebak dalam peningkatan pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.
Di Ambang Krisis
Krisis kemanusiaan di Yaman semakin berat karena sistem pelayanan kesehatan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus bertambah.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah lembaga kemanusiaan memperingatkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan di Taiz telah mencapai tingkat kritis. Rumah sakit mengalami kekurangan obat-obatan, oksigen, sarung tangan operasi, obat bius, dan bahan bakar.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) melaporkan bahwa rumah sakit di dekat garis pertempuran harus menerima lonjakan pasien dengan luka tembak dan cedera berat akibat ledakan. Dalam satu pekan, jumlah korban perang yang ditangani dapat mencapai 700 orang.
Juru Bicara ICRC, Hachem Osseiran, memperingatkan bahwa sistem kesehatan di seluruh Yaman berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
“Sistem pelayanan kesehatan di seluruh Yaman berada di ambang kehancuran,” ujar Osseiran.
Menurut dia, sebelum pertempuran terbaru meningkat, lebih dari 40 persen rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Yaman sudah tutup atau hanya mampu beroperasi sebagian akibat konflik berkepanjangan.
Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh keterbatasan air bersih dan penumpukan sampah di jalan, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap munculnya wabah penyakit.
Kehilangan Akses
Dampak perang tidak hanya dirasakan korban luka tembak. Perempuan hamil juga semakin sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman.
Di sejumlah rumah sakit dekat garis depan, ruang bersalin bahkan dialihfungsikan menjadi ruang gawat darurat untuk menangani korban pertempuran.
Kondisi ini memaksa tenaga medis menghadapi dilema yang sangat berat ketika harus menentukan pasien yang mendapatkan pertolongan terlebih dahulu.
Osseiran menggambarkan keadaan tersebut sebagai pilihan yang menyakitkan bagi para dokter.
“Sebagian dokter harus membuat pilihan yang sangat sulit dan menyakitkan: apakah saya membantu perempuan ini melahirkan bayinya, atau segera menolong seseorang yang mengalami pendarahan akibat luka tembak?” katanya.
Di Kota Taiz, PBB melaporkan para bidan komunitas terpaksa menghentikan pelayanan akibat pembatasan pergerakan. Keadaan itu semakin mempersempit akses perempuan terhadap pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan.
Faskes Jadi Korban
Ancaman terhadap pelayanan kesehatan tidak berhenti pada keterbatasan tenaga medis dan peralatan. Sejumlah fasilitas kesehatan juga terdampak serangan bersenjata.
Menurut PBB, sebuah rumah sakit di Distrik Sabir Al-Mawadim, Taiz, terkena serpihan mortir untuk kedua kalinya sepanjang Oktober 2026.
Dalam insiden lainnya, serangan terhadap sebuah ambulans menewaskan seorang pengemudi dan seorang petugas medis.
Sementara itu, pada Senin (26/10/2026), serangan di dekat Rumah Sakit Umum Mocha menyebabkan kerusakan bangunan dan kepanikan di antara pasien.
Organisasi kemanusiaan medis Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas, yang mendukung pelayanan ibu dan anak di rumah sakit tersebut, menyatakan bahwa ancaman keselamatan membuat masyarakat semakin takut mencari pertolongan.
“Insiden seperti ini membuat pasien takut datang ke rumah sakit karena mengkhawatirkan keselamatan mereka,” ungkap MSF.
Terjebak Pertempuran
Provinsi Taiz menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak peningkatan konflik di Yaman.
Sejak 3 Oktober 2026, sebagian besar wilayah tersebut mengalami keterisolasian akibat pertempuran yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan sekaligus membatasi kesempatan warga untuk meninggalkan kawasan berbahaya.
Menurut data yang dikutip Reuters, sekitar 281.000 orang mengungsi akibat konflik di Yaman sejak awal Agustus 2026. Sekitar separuh dari jumlah tersebut berada di Provinsi Taiz.
Selain Taiz, wilayah Marib dan pesisir Laut Merah juga menghadapi tingginya jumlah korban, terutama pasien dengan luka tembak dan cedera kompleks akibat ledakan.
Di tengah keadaan tersebut, nasib Amal al-Sabri memperlihatkan bahwa penderitaan akibat perang tidak hanya dialami mereka yang berada di garis pertempuran.
Bagi perempuan yang sedang mengandung, konflik dapat merenggut akses terhadap layanan kesehatan, mengancam keselamatan diri, dan mempertaruhkan kehidupan bayi yang belum dilahirkan.
Ketika rumah sakit semakin kewalahan dan jalur bantuan kemanusiaan terhambat, keselamatan warga sipil menjadi persoalan mendesak yang membutuhkan perlindungan serta akses pertolongan medis tanpa hambatan. []
Redaksi