JAKARTA – Pengembangan usaha di lingkungan pondok pesantren perlu dibangun dengan mental yang tangguh, kemampuan menangkap peluang, dan komitmen memberikan manfaat sosial. Prinsip tersebut disampaikan Direktur Utama Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat, Anas Al Hifni, dalam Seminar Santripreneur di Kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Jakarta, Selasa (28/10/2026).
Anas memperkenalkan konsep Santripreneur Rahmatan lil ‘Alamin yang bertumpu pada tiga prinsip, yakni berdiri tegak, berlari cepat, dan berdampak. Konsep tersebut menempatkan ketahanan menghadapi tantangan dan kemampuan mengembangkan peluang sebagai bagian penting dari kewirausahaan santri.
“Seorang santripreneur harus memiliki keteguhan dalam menghadapi tantangan, kecepatan dalam mengambil peluang, serta komitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Anas.
Ia juga membagikan pengalaman membenahi perusahaan garam yang memiliki enam karyawan dan menghadapi kerusakan fasilitas. Pengalaman itu menjadi contoh bahwa persoalan usaha dapat dihadapi melalui pembenahan manajemen dan dukungan pembiayaan.
Anas menekankan bahwa keberhasilan bisnis tidak semestinya hanya diukur melalui keuntungan finansial. Usaha yang berkembang juga dapat mendukung pendidikan, menyediakan beasiswa, dan membantu guru menunaikan ibadah umrah.
Penguatan kewirausahaan pesantren diharapkan mampu menciptakan usaha yang berkelanjutan sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. []
Redaksi 1