MTsN 5 Kediri memanfaatkan permainan tradisional sebagai media pembelajaran karakter sekaligus mengenalkan nilai kebersamaan dan menjaga warisan budaya kepada para siswa.
KEDIRI – Permainan tradisional mulai dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran karakter di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 5 Kediri. Melalui berbagai aktivitas dolanan di luar kelas, para siswa diajak mempraktikkan nilai kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, sportivitas, dan kepedulian sosial sekaligus mengenal kembali warisan budaya daerah.
Kepala MTsN 5 Kediri Abas Shofwan menilai permainan tradisional memiliki nilai pendidikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pesan moral tidak cukup disampaikan melalui ceramah atau nasihat, tetapi perlu diperkuat dengan pengalaman langsung agar lebih mudah dipahami peserta didik.
“Filosofi dalam dolanan sarat nilai kehidupan. Dapat menanamkan karakter positif pada siswa,” ujar Abas, sebagaimana diberitakan Radar Kediri, Jumat, (30/10/2026).
Ia menjelaskan, keterlibatan siswa dalam permainan tradisional memberikan kesempatan untuk belajar berinteraksi, menaati aturan, menghargai sesama, serta menerima hasil permainan. Proses tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter melalui kegiatan yang menyenangkan.
“Aktivitas ini sekaligus menjadi sarana membangun kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan sportivitas. Juga kerja sama dan kepedulian terhadap sesama,” papar Abas.
Upaya menghidupkan kembali permainan tradisional juga diwujudkan dalam kegiatan pelepasan siswa kelas IX pada Mei 2026. Dalam acara tersebut, aktivitas siswa Angkatan 53 dikemas dengan nuansa budaya Jawa dan ditampilkan melalui tayangan video.
Selain prosesi resmi, acara pelepasan itu dimeriahkan pertunjukan tari dan atraksi permainan tradisional. Salah satunya adalah gobak sodor yang dimainkan sebagai bagian dari pengenalan budaya kepada warga madrasah.
“Selain prosesi resmi, acara dimeriahkan tari dan atraksi dolanan. Ada yang berperan main gobak sodor,” imbuhnya.
Nuansa budaya Jawa juga terlihat dari dekorasi, busana, hingga penggunaan bahasa oleh guru, siswa, dan staf madrasah. Pendekatan tersebut dimaksudkan agar pelestarian tradisi tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi hadir dalam kegiatan sekolah.
Sebelumnya, pada 2025, MTsN 5 Kediri menggelar Festival Permainan Tradisional dengan menghadirkan sembilan jenis permainan. Kegiatan itu meliputi gobak sodor, egrang batok, dakon atau congklak, bekelan, lompat tali, gendong timbo, sarung estafet, voli sarung, dan lomba layang kreasi.
Festival tersebut menjadi salah satu agenda madrasah untuk mendorong siswa lebih mengenal dan mencintai budaya tradisional. Melalui keterlibatan langsung, peserta didik diharapkan tidak hanya mengetahui nama permainan, tetapi juga memahami nilai kebersamaan dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.
Pemanfaatan permainan tradisional sebagai media pendidikan sekaligus membuka ruang bagi madrasah untuk menghubungkan pembelajaran karakter dengan pelestarian budaya. Dengan kegiatan yang berkelanjutan, generasi muda diharapkan tetap mengenal warisan permainan daerah dan mampu menerapkan nilai-nilai positifnya dalam kehidupan sehari-hari. []
Redaksi 01