{"id":171,"date":"2026-10-30T15:38:37","date_gmt":"2026-10-30T15:38:37","guid":{"rendered":"https:\/\/lenterahikmah.com\/?p=171"},"modified":"2026-10-30T15:38:37","modified_gmt":"2026-10-30T15:38:37","slug":"jami-al-bayan-mahakarya-tafsir-klasik-al-tabari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/2026\/10\/30\/jami-al-bayan-mahakarya-tafsir-klasik-al-tabari\/","title":{"rendered":"J\u0101mi\u2018 al-Bay\u0101n: Mahakarya Tafsir Klasik Al-Tabari"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Identitas kitab<\/strong><\/p>\n<p>Judul: <em>J\u0101mi\u2018 al-Bay\u0101n \u2018an Ta\u2019w\u012bl \u0100y al-Qur\u2019\u0101n<\/em><\/p>\n<p>Penulis: Ab\u016b Ja\u2018far Mu\u1e25ammad ibn Jar\u012br al-\u1e6cabar\u012b<\/p>\n<p>Bidang: Tafsir Al-Qur\u2019an<\/p>\n<p>Masa hidup penulis: 224\u2013310 H atau sekitar 839\u2013923 M<\/p>\n<p>Bahasa: Arab<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jumlah jilid kitab ini berbeda-beda menurut edisi penerbit. Karena itu, resensi ini menilai isi dan metode kitab secara umum, bukan satu cetakan tertentu. Salah satu edisi yang dirujuk dalam kajian akademik ialah edisi tahkik A\u1e25mad Mu\u1e25ammad Sy\u0101kir yang diterbitkan Mu\u2019assasah al-Ris\u0101lah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Gambaran umum<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>J\u0101mi\u2018 al-Bay\u0101n<\/em> merupakan salah satu karya tafsir klasik paling berpengaruh. Kekuatan utamanya terletak pada upaya menghimpun beragam penjelasan tentang ayat Al-Qur\u2019an, terutama riwayat dari Nabi, para sahabat, dan generasi setelah mereka. Al-\u1e6cabar\u012b tidak sekadar menyusun pendapat-pendapat itu; ia juga membandingkan, menilai, dan pada banyak tempat memilih pendapat yang dianggap paling kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kitab ini disusun mengikuti urutan mushaf dan membahas ayat secara berurutan. Dalam pembahasannya, al-\u1e6cabar\u012b menguraikan makna kata, susunan bahasa dan tata bahasa Arab, ragam bacaan (<em>qir\u0101\u2019\u0101t<\/em>), sebab turunnya ayat apabila tersedia, serta pendapat para ulama. Kajian atas struktur kitab mencatat bahwa ia kerap mengelompokkan beberapa ayat, lalu membahas bagian-bagian ayat secara rinci dan melakukan <em>tarj\u012b\u1e25<\/em>\u2014penguatan salah satu pendapat berdasarkan pertimbangan tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, kitab ini lazim disebut tafsir <em>bi al-ma\u2019th\u016br<\/em> karena banyak bertumpu pada riwayat, tetapi metodenya tidak berhenti pada pengutipan. Analisis bahasa, perbandingan pendapat, dan penalaran al-\u1e6cabar\u012b menunjukkan adanya penggunaan pertimbangan <em>dir\u0101yah<\/em> atau analisis. Rujukan ensiklopedis juga menyoroti keluasan kitab ini serta ketelitian al-\u1e6cabar\u012b dalam mencatat sumber yang beragam dan kadang saling bertentangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Metode dan karakter penafsiran<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu ciri paling menonjol ialah pencantuman <em>isn\u0101d<\/em> atau mata rantai periwayatan. Dengan menyebut sumber dan jalur riwayat, al-\u1e6cabar\u012b memberi pembaca bahan untuk menelusuri asal-usul pendapat yang dikutip. Penelitian yang secara khusus mengkaji tafsirnya, misalnya, menganalisis 8.424 <em>isn\u0101d<\/em> dalam penafsiran Surah al-F\u0101ti\u1e25ah dan al-Baqarah. Banyaknya riwayat itu memperlihatkan sekaligus luasnya bahan yang dihimpun dan pentingnya pemeriksaan sanad saat kitab ini digunakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-\u1e6cabar\u012b juga dikenal sebagai mufasir yang melakukan <em>tarj\u012b\u1e25<\/em>. Ia mengemukakan sejumlah penafsiran, kemudian memilih pendapat dengan alasan yang dapat mencakup penggunaan bahasa Arab, konteks ayat, riwayat, atau pertimbangan lain. Karena itu, pembaca dapat melihat bukan hanya hasil penafsirannya, melainkan juga sebagian proses argumentasinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembahasan <em>qir\u0101\u2019\u0101t<\/em> menjadi contoh penting dari pendekatan tersebut. Al-\u1e6cabar\u012b membandingkan ragam bacaan dan menilai kekuatan bacaan berdasarkan kerangka yang digunakannya. Pendekatan ini menjadi bahan kajian dan perdebatan dalam ilmu <em>qir\u0101\u2019\u0101t<\/em>: sebuah disertasi di Universiti Kebangsaan Malaysia membahas kritik terhadap sejumlah penilaian al-\u1e6cabar\u012b, termasuk persoalan ketika beberapa bacaan yang dinilai mutawatir tidak diterima atau tidak diunggulkan olehnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kelebihan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertama, kitab ini menyajikan khazanah penafsiran awal Islam secara luas. Riwayat dan pendapat yang beragam membantu pembaca memahami bagaimana suatu ayat pernah diterangkan oleh sejumlah otoritas keilmuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua, al-\u1e6cabar\u012b menunjukkan bahwa tafsir berbasis riwayat tetap memerlukan penilaian. Ia membandingkan pendapat dan kerap menyampaikan alasan pemilihannya. Hal ini menjadikan kitab tersebut sumber penting untuk mempelajari metode tafsir, bahasa Arab, sejarah pemikiran, dan perkembangan ilmu <em>qir\u0101\u2019\u0101t<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga, kelengkapan pembahasannya memberi manfaat bagi peneliti yang ingin mengkaji suatu ayat secara mendalam. Kitab ini bukan hanya berisi kesimpulan, tetapi juga menyimpan bahan untuk menelusuri perbedaan penafsiran dan cara argumentasi para ulama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Catatan kritis<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keluasan kitab ini dapat menjadi tantangan bagi pembaca pemula. Uraiannya panjang, berbahasa Arab, dan menghimpun banyak riwayat serta pendapat. Pembaca yang mencari penjelasan ringkas dan langsung mungkin akan kesulitan mengikuti seluruh perdebatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, pencantuman sebuah riwayat tidak dengan sendirinya berarti al-\u1e6cabar\u012b menyatakan riwayat tersebut sahih. Kajian tentang tafsir <em>bi al-ma\u2019th\u016br<\/em> mengingatkan bahwa bahan riwayat memiliki kualitas beragam dan perlu dinilai dengan perangkat ilmu hadis, termasuk pemeriksaan sanad dan para perawinya. Karena itu, pembaca sebaiknya membedakan antara riwayat yang dikutip, pendapat yang sedang dipaparkan, dan pendapat yang akhirnya dipilih al-\u1e6cabar\u012b.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penilaian al-\u1e6cabar\u012b terhadap <em>qir\u0101\u2019\u0101t<\/em> juga perlu dibaca dalam konteks metode dan zamannya, serta dibandingkan dengan pembahasan para ahli <em>qir\u0101\u2019\u0101t<\/em>. Kitab ini sangat penting sebagai sumber, tetapi tidak berarti setiap penilaian di dalamnya bebas dari perbedaan ilmiah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penilaian akhir<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>J\u0101mi\u2018 al-Bay\u0101n \u2018an Ta\u2019w\u012bl \u0100y al-Qur\u2019\u0101n<\/em> adalah karya tafsir monumental yang menggabungkan penghimpunan riwayat dengan analisis bahasa dan penilaian terhadap pendapat-pendapat yang ada. Nilai besarnya bukan hanya terletak pada keluasan informasi, tetapi juga pada kemampuannya memperlihatkan proses terbentuknya penafsiran dan perdebatan keilmuan pada masa awal Islam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kitab ini sangat layak menjadi rujukan bagi mahasiswa, peneliti, dan pembaca yang telah memiliki dasar bahasa Arab serta ilmu tafsir. Pembacaannya akan lebih bertanggung jawab bila disertai pemeriksaan kualitas riwayat, perbandingan dengan kitab tafsir dan ilmu <em>qir\u0101\u2019\u0101t<\/em> lain, serta perhatian pada edisi yang digunakan. Secara keseluruhan, <em>J\u0101mi\u2018 al-Bay\u0101n<\/em> bukan sekadar kumpulan tafsir, melainkan salah satu fondasi penting bagi kajian tafsir Al-Qur\u2019an. []<\/p>\n<p>Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Identitas kitab Judul: J\u0101mi\u2018 al-Bay\u0101n \u2018an Ta\u2019w\u012bl \u0100y al-Qur\u2019\u0101n Penulis: Ab\u016b Ja\u2018far Mu\u1e25ammad ibn Jar\u012br al-\u1e6cabar\u012b Bidang: Tafsir<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":172,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[158],"tags":[363,358,359,362,364,366,357,361,365,360],"class_list":["post-171","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-murajaat","tag-ilmu-tafsir-al-quran","tag-jami-al-bayan","tag-kitab-tafsir-klasik","tag-metode-tafsir","tag-qiraat","tag-sejarah-tafsir-islam","tag-tafsir-al-tabari","tag-tafsir-bi-al-matsur","tag-tafsir-bil-matsur","tag-ulama-tafsir"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari.png",1536,1024,false],"thumbnail":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari-150x150.png",150,150,true],"medium":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari-300x200.png",300,200,true],"medium_large":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari-768x512.png",640,427,true],"large":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari-1024x683.png",640,427,true],"1536x1536":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari.png",1536,1024,false],"2048x2048":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari.png",1536,1024,false],"reviewnews-large":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari-825x575.png",825,575,true],"reviewnews-medium":["https:\/\/lenterahikmah.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/resensi-tafsir-al-tabari-590x410.png",590,410,true]},"author_info":{"info":["lenterahikmah"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/category\/murajaat\/\" rel=\"category tag\">Murajaat<\/a>","tag_info":"Murajaat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=171"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":173,"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171\/revisions\/173"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lenterahikmah.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}